
Ia paham, bahwa tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Perlu kekuatan lebih besar agar hutan,
tanah, dan sumber air di Batu dapat segera diselamatkan.
Pada
2 Februari 2004, banjir bandang melantak Batu, Malang. Bambang
Parianom, warga setempat, tersentak. Batu merupakan bagian hulu daerah
aliran sungai Brantas. "Banjir biasanya berada di hilir, jika terjadi di
hulu, berarti ada bahaya yang luar biasa."
Banjir saat itu
menerjang beberapa desa di Kecamatan Bumiaji. Material hutan seperti
balok kayu menghantam pemukiman penduduk sepanjang aliran sungai
Brantas. Lahan longsor di sepanjang 500 meter di Kecamatan Junrejo, pipa
PDAM putus, dan beberapa proyek rusak.
Pria kelahiran
Bojonegoro, 16 November 1955 ini semakin cemas. Pasalnya, ia menemukan
penyebab banjir tak lain karena gundulnya sekitar 5.900 hektare hutan di
Batu akibat penebangan liar. "Bukit-bukit di wilayah yang menjadi
'mahkota' Batu itu telanjang tanpa tanaman sehingga rawan longsor,"
ujarnya seperti dilansir danamonaward.org.
Sebelumnya data Kantor
Pengendalian Dampak Lingkungan tahun 2003 juga telah mendeteksi, di
tiga wilayah kecamatan di Batu terdapat 15 titik rawan bencana
tanah longsor yang mengancam sekitar 1.170 hektare lahan.
Bambang
tahu bencana serupa yang lebih besar bisa terjadi jika hutan di daerah
ketinggian dan hulu sungai semakin terkikis. Tak hanya itu, sumber air
bagi kota Malang dan Batu pun terganggu.
Bambang--saat itu
bekerja sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota
Batu--mulai menginventarisasi data ekologi Batu. Hutan di Batu seluas
11.228 hektare merupakan area tangkapan air. Di Batu juga terdapat 111
sumber air bagi masyarakat Kota Batu dan Malang, namun hampir
setengahnya telah mati akibat alih lahan dan pengolahan
tanah yang tidak memperhatikan kaidah konservasi.
Debit
air Sungai Brantas pun menurun akibat deforestasi dan degradasi lahan.
"Padahal air Sungai Brantas merupakan sumber kehidupan sebagian besar
masyarakat Jawa Timur," ujarnya.
Pria yang sebelumnya berprofesi
sebagai guru ini mulai melakukan penanaman dalam skala kecil di
sepanjang susur Kali Sungai Brantas. Namun, ia paham, bahwa ia tidak
dapat melakukan semuanya sendiri. Perlu kekuatan lebih besar agar hutan,
tanah,
dan sumber air di Batu dapat segera diselamatkan. Tanggal 31 Oktober
2005, sarjana hukum ini membentuk Yayasan Pengembangan Usaha Strategis
dan Advokasi Kelestarian Alam (PUSAKA).
Tidak lama setelah PUSAKA
terbentuk, dengan bantuan Evironmental Services Program USAID, Bambang
menanami lahan hutan seluas 20 hektare dengan tanaman pinus,
eucalypthus, dan suren. "Obsesinya untuk segera memulihkan hutan," kata
Guru Teladan Jawa Timur 1985 ini.
Namun, Bambang menghadapi hambatan. Tanaman tersebut banyak yang dicabuti oleh petani penggarap atau penduduk.
Pada
2006, Bambang menjabat sebagai Camat Bumiaji. Ia menggunakan jabatannya
dengan mengerahkan Muspika yang terdiri dari Camat, Kapolsek dan
Danramil agar upaya pemulihan hutan bisa berjalan. Bambang juga
membentuk Gerakan Intensifikasi Rehabilitasi Alam Bumiaji (GIRAB) dan
menjalin kemitraan lintas sektor seperti Perhutani, Perum Jasa Tirta I,
Taman Hutan Raya Raden Suryo (Tahura), Perguruan Tinggi, LSM, dan tokoh
lintas agama.
Perhutani mengizinkan Bambang untuk menanami area
Perhutani. Saat ini telah ada kesepakatan antara PUSAKA dan Perhutani
untuk penananam di areal Perhutani seluas 36 hektare. Perum Jasa Tirta,
memberikan pinjaman lunak dana sebesar Rp 2,5 juta sejak 2007 kepada
petani binaan Bambang untuk pengembangan usaha.
Sebanyak 300
orang telah tergabung dalam jejaring kemitraan ekologi PUSAKA yang
terdiri dari berbagai komunitas seperti Paguyuban Masyarakat Abdi
Lingkungan (PAMALI), Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan
(FKMPL), dan banyak lagi. Untuk lebih menanamkan kepedulian lingkungan
sejak usia dini, PUSAKA hadir di sekolah-sekolah dasar untuk mengadakan
kegiatan lingkungan.
Hingga saat ini jejaring PUSAKA telah
menanami sekitar hampir 100 hektare lahan untuk kepentingan ekologi
Batu. PUSAKA juga ikut andil menyelamatkan lahan resapan dan titik
sumber air Unggul. Awalnya, di sana akan dibangun sebuah kawasan hotel,
namun PUSAKA bersama berbagai komunitas seperti WALHI, LBH, berhasil
membuat Wali Kota Batu mencabut izin pembangunan hotel tersebut.
Sejak
2009 Bambang tidak lagi menjadi camat. Ini membuatnya bisa lebih
berkonsentrasi pada bidang lingkungan. Berkat upayanya, kegundulan hutan
dan sisi sungai telah berkurang. Beberapa mata air yang sebelumnya mati
juga sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Bambang tahu ia
akan menghadapi tantangan ke depan dengan konsep pembangunan yang sering
tidak memperhatikan sisi ekologi. "Pembangunan paradoks dengan ekologi.
Ketika komitmen politik tidak sepenuhnya mendukung, maka partisipasi
masyarakat harus ditingkatkan," ujarnya.
Bambang, memang
istimewa. Seperti disebutkan Nugie, artis yang peduli lingkungan.
Katanya, Bambang adalah orang yang percaya pada panggilannya, karena
sejak awal sudah menjawab dan menjalankan tanpa mengukur kendala dan
kesuksesan yang akan diraih. Semata hanya melakukan dan terus
mengembangkan lentera jiwanya untuk terus berbagi pada bumi dan manusia.
Selengkapnya: http://www.eciputra.com/berita-2078-bambang-parianom-penyelamat-mahkota-kota-batu-.html